Dalam tradisi pendidikan pesantren, hubungan antara guru dan murid memiliki kedudukan yang sangat penting. Proses menuntut ilmu tidak hanya dipahami sebagai aktivitas intelektual yang berfokus pada penyampaian pengetahuan semata, tetapi juga sebagai perjalanan pembentukan karakter yang melibatkan adab, keteladanan, serta kedekatan batin antara santri dan gurunya.
Hubungan ini dalam tradisi pesantren sering dikenal dengan istilah taʿalluq, yaitu keterhubungan yang kuat antara santri dan guru dalam proses mencari ilmu. Taʿalluq tidak sekadar hubungan formal antara pengajar dan pelajar. Ia merupakan relasi yang dibangun di atas dasar penghormatan, kepercayaan, serta kesadaran bahwa ilmu memiliki kedudukan yang mulia.
Oleh karena itu, seorang santri datang ke pesantren bukan hanya untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga untuk belajar adab serta mengharapkan keberkahan dari ilmu yang dipelajarinya.
Dalam lingkungan pesantren, menghormati dan memuliakan guru dipandang sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam menuntut ilmu. Seorang santri diajarkan untuk menjaga sikap kepada gurunya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Tindakan yang tidak pantas terhadap guru dianggap sebagai sesuatu yang dapat mengurangi keberkahan ilmu.
Hubungan antara guru dan murid tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga memiliki dimensi spiritual dalam perjalanan menuntut ilmu. Oleh karena itu, santri juga dianjurkan untuk selalu mengharapkan keridhaan gurunya.
Pandangan ini ditegaskan dalam kitab Taʿlim al-Mutaʿallim karya Syaikh Burhanuddin az-Zarnuji:
اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لاَ يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ إِلَّا بِتَعْظِيمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيرِهِ قِيلَ: مَا وَصَلَ مَنْ وَصَلَ إِلَّا بِالْحُرْمَةِ، وَمَا سَقَطَ مَنْ سَقَطَ إِلَّا بِتَرْكِ الْحُرْمَةِ
Syaikh Az-Zarnuji menjelaskan bahwa seorang penuntut ilmu tidak akan memperoleh manfaat dari ilmunya kecuali dengan memuliakan ilmu serta menghormati orang yang mengajarkannya. Banyak orang mencapai kedudukan yang tinggi karena menjaga penghormatan tersebut, sementara sebagian lainnya justru kehilangan keberkahan ilmu karena mengabaikannya.
Dalam kehidupan pesantren, nilai ini tidak hanya diajarkan dalam bentuk teori, tetapi juga dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Santri dibiasakan untuk bersikap rendah hati di hadapan guru, menjaga tutur kata, serta menunjukkan kesungguhan dalam belajar.
Dalam tradisi pendidikan Islam terdapat sebuah ungkapan yang sering dikutip oleh para ulama:
ليس من أخلاق المؤمن التملق إلا في طلب العلم
Ungkapan ini menjelaskan bahwa sikap merendah secara berlebihan bukanlah karakter seorang mukmin dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam konteks menuntut ilmu, kerendahan hati justru menjadi sikap yang sangat dianjurkan.
Seorang murid dianjurkan untuk bersikap tawadhu kepada gurunya. Melalui sikap tersebut, seorang penuntut ilmu membuka dirinya untuk menerima ilmu dengan lebih baik.
Dalam tradisi pesantren, seorang kyai tidak hanya berperan sebagai pengajar. Ia juga menjadi rujukan keilmuan, penjaga kesinambungan sanad, sekaligus pembimbing spiritual bagi para santri. Oleh karena itu, hubungan antara santri dan kyai tidak berhenti pada proses belajar di kelas, tetapi berlanjut dalam pembinaan kehidupan sehari-hari.
Menariknya, istilah taʿalluq juga dikenal dalam kajian ilmu nahwu (tata bahasa Arab). Dalam ilmu gramatika Arab, taʿalluq merujuk pada hubungan antara suatu unsur dalam kalimat dengan unsur lain yang menjadi tempat bergantungnya makna.
Dalam banyak pembahasan nahwu, sebuah kata sering kali tidak dapat berdiri sendiri. Ia membutuhkan keterkaitan dengan unsur lain agar maknanya menjadi jelas dan sempurna.
Konsep ini memberikan gambaran yang menarik jika dipahami dalam konteks pendidikan pesantren. Sebagaimana sebuah kata memperoleh makna melalui keterhubungannya dengan unsur lain dalam kalimat, demikian pula seorang santri memperoleh pemahaman ilmu melalui keterhubungannya dengan guru yang membimbingnya.
Dalam kitab Jami’ al-Durus al-Arabiyyah disebutkan:
المعلق هو لا يُستغنى عنه معنًى ولا إعراباً
Artinya, suatu unsur yang memiliki taʿalluq tidak dapat dipisahkan dari unsur lain, baik dari segi makna maupun i‘rabnya. Demikian pula seorang santri tidak dapat mencapai pemahaman ilmu secara sempurna tanpa bimbingan guru.
Hubungan antara guru dan murid dalam pesantren juga berkaitan erat dengan konsep sanad keilmuan. Dalam tradisi Islam, ilmu tidak dipelajari secara terpisah dari rantai transmisi yang menghubungkan para ulama dari generasi ke generasi.
Seorang santri yang belajar kepada gurunya sebenarnya sedang memasuki jaringan keilmuan yang telah berlangsung selama berabad-abad. Guru yang mengajarinya juga pernah belajar kepada gurunya, dan demikian seterusnya hingga sampai kepada para ulama terdahulu.
Melalui taʿalluq antara guru dan murid, kesinambungan tradisi keilmuan Islam dapat terus terjaga. Ilmu tidak hanya dipahami sebagai teks yang dibaca, tetapi juga sebagai tradisi yang hidup dalam bimbingan para ulama.
Pada akhirnya, konsep taʿalluq menunjukkan bahwa pendidikan dalam tradisi pesantren tidak hanya bertumpu pada metode pengajaran atau kurikulum semata. Pendidikan dipahami sebagai hubungan manusia yang dibangun melalui kepercayaan, penghormatan, dan keteladanan.
Melalui hubungan tersebut, ilmu tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan teoritis, tetapi juga diwariskan sebagai tradisi yang hidup. Taʿalluq antara guru dan murid menjadi salah satu fondasi penting yang menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam dari generasi ke generasi.
Di tengah perkembangan sistem pendidikan modern yang semakin teknis dan administratif, nilai-nilai seperti ini mengingatkan bahwa proses belajar pada hakikatnya adalah hubungan manusia dalam perjalanan mencari ilmu dan kebijaksanaan.
Nilai memuliakan guru juga ditegaskan oleh Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi dalam salah satu karyanya:
كُنْ مُوَقِّرًا لِمُعَلِّمِكَ مُعَظِّمًا لَهُ، فَاِنَّ تَعْظِيْمَهُ مِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ. وَلاَ يَنَالُ الْعِلْمَ اِلاَّ بِتَعْظِيْمِهِ وَتَعْظِيْمِ أَهْلِهِ، وَكُنْ مُعْتَقِدًا أَيْضًا أَهْلِيَتَهُ وَرُجْحَانَهُ عَلىَ مَنْ كَانَ فِي طَبَقَتِهِ
Artinya: “Jadilah engkau orang yang memuliakan dan mengagungkan gurumu. Karena memuliakannya merupakan bagian dari memuliakan ilmu. Seseorang tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan memuliakan ilmu dan orang yang berilmu. Selain itu, yakinkanlah dirimu akan kapasitas dan keutamaan gurumu dibandingkan orang lain yang seangkatannya.” (Syekh Abu Bakar Syatha ad-Dimyathi, Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya, Beirut: Darul Kutub Ilmiah, hlm. 170).